Kerja remote sering kali dianggap sebagai solusi ideal bagi generasi muda, terutama Gen Z. Fleksibilitas waktu, tidak perlu macet-macetan, bisa bekerja dari mana saja, dan suasana kerja yang lebih santai membuat sistem ini terlihat sangat menjanjikan. Namun, di balik semua kelebihannya, kerja remote juga membawa tantangan baru yang tidak sedikit, terutama bagi kesehatan mental Gen Z di era digital yang serba cepat dan terkoneksi tanpa henti.
Gen Z https://dalmadicenter.com/pentingnya-mental-health-di-lingkungan-kerja-pada-kaum-gen-z/ adalah generasi yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan teknologi digital. Mereka terbiasa multitasking, respons cepat, dan selalu terhubung. Ketika kerja remote menjadi norma, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan pun semakin kabur. Jam kerja tidak lagi jelas, notifikasi bisa datang kapan saja, dan tuntutan untuk selalu “online” sering kali membuat Gen Z merasa tidak pernah benar-benar beristirahat. Alih-alih lebih santai, banyak dari mereka justru mengalami stres yang berkepanjangan.
Salah satu sumber stres terbesar dalam kerja remote adalah beban kerja yang tidak terukur. Tanpa pengawasan langsung, sebagian perusahaan cenderung memberikan tugas lebih banyak dengan asumsi karyawan memiliki waktu luang. Gen Z yang dikenal ambisius dan ingin membuktikan diri sering kali sulit mengatakan “tidak”. Akibatnya, mereka bekerja melebihi jam normal, mengorbankan waktu istirahat, dan perlahan mengalami kelelahan mental atau burnout.
Selain itu, isolasi sosial juga menjadi faktor penting. Bekerja dari rumah memang nyaman, tetapi kurangnya interaksi tatap muka dapat memicu rasa kesepian. Gen Z yang pada dasarnya membutuhkan koneksi sosial dan validasi bisa merasa terasing. Meeting online tidak selalu mampu menggantikan obrolan santai di kantor, bercanda dengan rekan kerja, atau sekadar makan siang bersama. Perasaan terisolasi ini, jika dibiarkan, dapat berdampak serius pada kesehatan mental.
Tekanan dari media sosial juga memperparah kondisi ini. Gen Z hidup di era perbandingan tanpa henti. Saat membuka media sosial, mereka melihat orang lain yang tampak sukses, produktif, traveling sambil kerja, atau memiliki karier yang terlihat sempurna. Hal ini memicu overthinking, rasa tidak cukup baik, dan ketakutan tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sisi terbaik, bukan realita sepenuhnya.
Kerja remote juga menuntut kemampuan manajemen diri yang tinggi. Tidak semua orang mampu mengatur waktu, fokus, dan emosi dengan baik, terutama ketika bekerja di lingkungan rumah yang penuh distraksi. Tuntutan untuk tetap produktif di tengah gangguan ini membuat Gen Z mudah merasa gagal, cemas, dan frustrasi. Tanpa dukungan yang memadai, tekanan ini bisa menumpuk dan berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.
Meski demikian, bukan berarti kerja remote selalu berdampak buruk. Kuncinya terletak pada kesadaran dan pengelolaan yang tepat. Gen Z perlu belajar menetapkan batasan yang jelas antara kerja dan kehidupan pribadi, seperti menentukan jam kerja, mematikan notifikasi di luar jam tersebut, dan menyediakan waktu khusus untuk istirahat. Selain itu, menjaga rutinitas sehat seperti olahraga ringan, tidur cukup, dan menjaga pola makan juga sangat penting.
Peran perusahaan pun tidak kalah krusial. Perusahaan perlu menciptakan budaya kerja yang peduli pada kesehatan mental, bukan hanya fokus pada produktivitas. Dukungan seperti fleksibilitas yang realistis, komunikasi yang terbuka, serta akses ke layanan kesehatan mental dapat membantu Gen Z menghadapi tantangan kerja remote dengan lebih baik.
Pada akhirnya, kerja remote adalah pedang bermata dua bagi Gen Z. Di satu sisi menawarkan kebebasan, di sisi lain membawa tekanan baru yang sering tidak disadari. Dengan kesadaran, dukungan, dan strategi yang tepat, kerja remote bisa menjadi sistem yang sehat dan berkelanjutan, bukan sumber stres yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental generasi muda di era digital.
